Kondisi Ekonomi Global yang Mempengaruhi Kebijakan BI
Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral memiliki tanggung jawab utama menjaga stabilitas moneter di tengah dinamika global. Pada Agustus 2025, prediksi banyak ekonom menilai BI akan mempertahankan BI 7-Day Repo Rate di level 5,25%. Keputusan ini tidak terlepas dari kondisi global yang masih penuh ketidakpastian. Di Amerika Serikat, The Fed cenderung menahan suku bunga acuan karena inflasi belum sepenuhnya terkendali. Di sisi lain, perlambatan ekonomi China berdampak pada permintaan ekspor Indonesia.
BI mempertimbangkan faktor-faktor ini sebelum menetapkan suku bunga. Jika suku bunga terlalu cepat diturunkan, risiko arus modal keluar dapat meningkat. Investor asing biasanya mencari imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga ketika Indonesia menurunkan bunga, dana bisa lari ke negara lain dengan return lebih menarik. Inilah alasan mengapa Bank Indonesia pertahankan BI Rate 5,25% sebagai langkah hati-hati menjaga stabilitas.
Stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian utama. Depresiasi tajam rupiah dapat memicu imported inflation, terutama karena Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku industri dan energi. Dengan mempertahankan BI Rate di level saat ini, BI ingin menjaga kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional.
Perkembangan Inflasi Domestik dan Dampaknya
Inflasi merupakan salah satu indikator penting dalam penentuan suku bunga. Pada semester I 2025, inflasi Indonesia tercatat relatif stabil di kisaran 2,8%–3,1% year-on-year. Angka ini masih berada dalam target inflasi BI sebesar 2–4%. Stabilnya harga pangan, meski sempat ada gejolak akibat El Nino dan kenaikan harga beras dunia, berhasil dijaga melalui program stabilisasi pemerintah.
Dengan kondisi inflasi yang terkendali, Bank Indonesia punya ruang untuk menahan suku bunga di level saat ini. Kebijakan ini juga sejalan dengan langkah menjaga daya beli masyarakat. Bila bunga dinaikkan terlalu tinggi, kredit konsumsi dan investasi bisa tertekan. Namun, jika terlalu cepat diturunkan, risiko overheating ekonomi bisa muncul.
Dalam konteks ini, Bank Indonesia pertahankan BI Rate 5,25% untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga. Efeknya terlihat dari inflasi inti yang stabil, sementara inflasi pangan bergejolak dapat ditekan dengan kebijakan subsidi dan operasi pasar.
Dampak Terhadap Pasar Keuangan
Pasar keuangan sangat sensitif terhadap kebijakan suku bunga. Setiap pengumuman dari Bank Indonesia mengenai BI Rate selalu menjadi perhatian pelaku pasar. Dengan prediksi BI mempertahankan suku bunga di 5,25%, investor asing menilai Indonesia sebagai negara yang relatif stabil. Hal ini terbukti dari aliran masuk dana asing ke pasar obligasi pemerintah (SBN) yang cukup kuat sepanjang 2025.
Nilai tukar rupiah pun cenderung stabil di kisaran Rp15.200–15.500 per dolar AS. Stabilitas ini memberikan rasa aman bagi investor domestik maupun asing. Di pasar saham, sektor perbankan menjadi salah satu penerima dampak positif. Dengan BI Rate tetap, margin bunga bersih (NIM) bank bisa lebih terjaga, sementara risiko kredit macet akibat kenaikan bunga bisa diminimalisasi.
Namun, ada juga sektor yang berharap suku bunga segera diturunkan, seperti properti dan manufaktur. Kedua sektor ini sangat bergantung pada ketersediaan kredit murah untuk meningkatkan aktivitas bisnis. Karena itu, meski pasar merespons positif stabilitas, ada tekanan dari kalangan pengusaha agar Bank Indonesia mulai mempertimbangkan pelonggaran di kuartal IV 2025.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diproyeksikan berada di kisaran 5,1–5,3%. Angka ini masih relatif kuat dibandingkan banyak negara lain di Asia Tenggara. Dukungan belanja pemerintah, ekspor komoditas, dan konsumsi domestik menjadi motor utama pertumbuhan.
Dengan mempertahankan BI Rate, pemerintah berharap stabilitas makroekonomi tetap terjaga. Stabilitas ini penting untuk menjaga iklim investasi, apalagi Indonesia tengah gencar menarik investor asing ke sektor hilirisasi mineral, energi terbarukan, dan infrastruktur.
Meski begitu, ada tantangan dari sisi global. Perlambatan ekonomi Tiongkok dapat menekan harga komoditas seperti batubara dan kelapa sawit, yang selama ini menjadi andalan ekspor Indonesia. Sementara itu, gejolak geopolitik global bisa menekan harga minyak dunia, berdampak pada inflasi energi di dalam negeri.
Bank Indonesia pertahankan BI Rate 5,25% sebagai bentuk antisipasi terhadap risiko-risiko tersebut. Dengan langkah ini, diharapkan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga tanpa menimbulkan gejolak inflasi maupun pelemahan rupiah yang terlalu tajam.
Reaksi Dunia Usaha dan Sektor Riil
Keputusan BI menahan suku bunga tidak hanya dilihat dari kacamata pasar keuangan, tetapi juga berdampak langsung ke dunia usaha. Pelaku bisnis sektor ritel dan manufaktur menyambut positif kebijakan ini karena memberikan kepastian biaya pinjaman. Kredit modal kerja dan investasi dapat berjalan lebih stabil tanpa ada kekhawatiran bunga meningkat.
Di sisi lain, sektor properti masih menunggu momentum penurunan bunga. Dengan suku bunga acuan tetap di 5,25%, bunga KPR komersial masih relatif tinggi di kisaran 8–9%. Hal ini membuat permintaan rumah dari kelas menengah ke bawah agak terhambat.
Meski begitu, pelaku usaha menyadari bahwa Bank Indonesia pertahankan BI Rate 5,25% bukan tanpa alasan. Keputusan ini lebih baik ketimbang menghadapi risiko gejolak rupiah atau lonjakan inflasi. Dengan menjaga stabilitas, dunia usaha masih bisa beroperasi dengan kepastian jangka menengah, sambil menunggu peluang pelonggaran kebijakan moneter di kuartal IV.
Prospek Kebijakan Moneter di Kuartal IV 2025
Meski mempertahankan BI Rate di Agustus 2025, para ekonom memperkirakan Bank Indonesia akan mulai menurunkan suku bunga pada kuartal IV. Hal ini sejalan dengan tren global di mana The Fed kemungkinan mulai melonggarkan kebijakan moneternya menjelang akhir tahun.
Jika inflasi domestik tetap terkendali dan rupiah stabil, ruang pelonggaran akan semakin terbuka. Penurunan suku bunga diharapkan mampu mendukung pertumbuhan kredit perbankan yang baru tumbuh sekitar 8% year-on-year. Target pemerintah adalah mendorong pertumbuhan kredit ke level dua digit agar investasi dan konsumsi bisa meningkat lebih cepat.
Dengan demikian, kebijakan moneter Bank Indonesia pada 2025 bisa dilihat sebagai strategi wait and see. Saat global masih bergejolak, BI memilih menahan bunga. Namun, ketika peluang pelonggaran semakin besar, BI bisa segera bertindak untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Kesimpulan: Stabilitas Sebagai Prioritas Utama
Bank Indonesia pertahankan BI Rate 5,25% pada Agustus 2025 bukan hanya sekadar keputusan teknis, tetapi strategi menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global. Dengan inflasi terkendali, rupiah stabil, dan pertumbuhan ekonomi cukup solid, BI memilih berhati-hati sebelum melakukan perubahan kebijakan.
Langkah ini disambut positif oleh pasar, meski sebagian dunia usaha masih berharap penurunan bunga segera dilakukan. Ke depan, kebijakan moneter BI akan sangat bergantung pada kondisi global, terutama arah kebijakan The Fed dan harga komoditas dunia.
Yang jelas, stabilitas tetap menjadi kata kunci. Sebab, tanpa stabilitas, pertumbuhan ekonomi tidak akan bisa berkelanjutan.
Referensi:
-
Bank Indonesia (Wikipedia)
-
Ekonomi Indonesia (Wikipedia)