Ekonomi Indonesia Kuartal II 2025 Tumbuh 5,12%: Stabil, Tapi Daya Beli Masyarakat Masih Lemah

ekonomi

Pendahuluan

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan resmi bahwa ekonomi Indonesia kuartal II 2025 tumbuh 5,12% secara tahunan (year-on-year). Capaian ini sedikit lebih tinggi dibanding kuartal I 2025 yang berada di angka 5,05%. Angka tersebut menandakan stabilitas ekonomi di tengah tekanan global, mulai dari perlambatan ekonomi Tiongkok, fluktuasi harga komoditas, hingga perubahan kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).

Namun, di balik angka pertumbuhan yang tampak solid, terselip satu fakta yang mengkhawatirkan: daya beli masyarakat masih melemah. Data BPS menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga—komponen terbesar dalam pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB)—melambat dari 2,9% pada kuartal I menjadi hanya 2,6% di kuartal II. Artinya, masyarakat Indonesia masih cenderung menahan pengeluaran, terutama untuk barang non-esensial.

Kondisi ini membuat para ekonom memberikan catatan penting: pertumbuhan di atas 5% memang baik secara angka, tetapi jika tidak diiringi peningkatan konsumsi rumah tangga, efeknya terhadap kesejahteraan rakyat tidak akan optimal. Pertumbuhan semacam ini sering disebut sebagai “pertumbuhan tanpa rasa”—terlihat di data statistik, tapi minim terasa di kantong masyarakat.


Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2025 tidak terjadi begitu saja. Ada sejumlah sektor dan faktor yang mendorong pencapaian ini, baik dari sisi domestik maupun internasional.

1. Ekspor Komoditas yang Tetap Perkasa
Indonesia masih menjadi salah satu pemasok utama batubara, nikel, dan CPO (crude palm oil) di pasar internasional. Meski harga batubara sempat turun dari puncaknya pada 2023, stabilitas harga di kisaran USD 120–140 per ton di 2025 membuat ekspor tetap menguntungkan. Sementara itu, harga nikel yang sempat tertekan karena surplus global mulai naik lagi seiring meningkatnya permintaan industri baterai kendaraan listrik. CPO pun mengalami penguatan harga di pasar global karena suplai Malaysia terganggu cuaca.

2. Investasi Infrastruktur Besar-Besaran
Pemerintah melanjutkan pembangunan proyek strategis nasional, termasuk kereta cepat tahap II yang menghubungkan Jakarta–Surabaya, serta percepatan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Proyek ini menyerap ribuan tenaga kerja dan memicu permintaan bahan bangunan, transportasi, serta layanan pendukung.

3. Kebangkitan Sektor Pariwisata
Sektor pariwisata menjadi penyumbang signifikan, dengan jumlah wisatawan mancanegara naik 18% dibanding tahun sebelumnya. Destinasi seperti Bali, Labuan Bajo, dan Mandalika mengalami lonjakan kunjungan, mendorong industri akomodasi, transportasi, dan kuliner.

4. Industri Manufaktur Mulai Pulih
Setelah melemah pada 2023–2024 akibat tekanan global, sektor manufaktur Indonesia mulai menunjukkan pemulihan, terutama di industri otomotif, elektronik, dan tekstil. Pemulihan ini didorong oleh kenaikan permintaan domestik dan peningkatan ekspor ke negara-negara ASEAN.


Daya Beli Masyarakat Masih Lemah

Meski pertumbuhan ekonomi terjaga, daya beli masyarakat belum kembali ke level yang diharapkan. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya:

1. Inflasi Pangan yang Bertahan Tinggi
BPS mencatat inflasi harga pangan pada kuartal II 2025 berada di level 4,1% (year-on-year), di atas target Bank Indonesia yang menetapkan sasaran inflasi 2–4%. Kenaikan harga beras, cabai, dan daging ayam menjadi penyumbang utama. Kondisi ini membuat pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pokok membengkak, sehingga anggaran untuk belanja barang sekunder berkurang.

2. Upah Riil Stagnan
Kenaikan gaji tahunan di banyak sektor tidak cukup untuk mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa. Hal ini mengakibatkan upah riil—yakni pendapatan yang disesuaikan dengan inflasi—tidak meningkat signifikan.

3. Kredit Konsumsi Melambat
Suku bunga kredit konsumsi yang masih relatif tinggi membuat masyarakat enggan mengambil cicilan baru, baik untuk pembelian kendaraan, properti, maupun barang elektronik. Data OJK menunjukkan pertumbuhan kredit konsumsi hanya 4,8%, lebih rendah dari target 6%.

4. Kecenderungan Menabung dan Membayar Utang
Pasca pandemi, banyak rumah tangga memilih memperkuat posisi keuangan dengan menabung atau melunasi utang. Meskipun ini baik untuk stabilitas finansial individu, perilaku ini membatasi perputaran uang di sektor ritel.


Tantangan Struktural Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2025 menghadapi sejumlah tantangan struktural yang jika tidak diatasi, bisa membatasi potensi jangka panjang.

1. Ketergantungan pada Komoditas
Ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada ekspor komoditas mentah. Ketika harga global turun, pendapatan negara dan perusahaan bisa terpukul. Diversifikasi industri menjadi penting untuk mengurangi risiko ini.

2. Produktivitas Tenaga Kerja
Meskipun tenaga kerja Indonesia melimpah, tingkat produktivitas masih kalah dibanding negara tetangga seperti Malaysia atau Thailand. Investasi di bidang pendidikan, pelatihan, dan teknologi menjadi kunci peningkatan daya saing.

3. Infrastruktur Digital yang Belum Merata
Pertumbuhan ekonomi digital membutuhkan konektivitas internet cepat dan stabil di seluruh wilayah. Namun, masih ada kesenjangan akses di daerah terpencil.


Strategi Pemerintah untuk Memperkuat Ekonomi

Untuk menjaga momentum dan memperkuat daya beli, pemerintah perlu menjalankan beberapa strategi:

1. Mengendalikan Inflasi Pangan
Memperbaiki rantai pasok, memperluas gudang penyimpanan berpendingin, dan memperkuat cadangan pangan strategis untuk menghindari lonjakan harga.

2. Memberikan Insentif Konsumsi
Program seperti potongan pajak untuk pembelian barang tertentu, diskon tarif transportasi umum, dan subsidi energi untuk rumah tangga berpenghasilan rendah bisa mendorong belanja.

3. Mendorong Investasi Industri Pengolahan
Meningkatkan nilai tambah ekspor dengan memperkuat sektor hilirisasi, misalnya pada industri nikel, CPO, dan perikanan.

4. Memperluas Lapangan Kerja Berkualitas
Mengundang investor di sektor teknologi, otomotif listrik, dan energi terbarukan untuk membuka peluang kerja baru dengan gaji layak.


Referensi


Penutup: Stabilitas Ekonomi Harus Diiringi Peningkatan Kesejahteraan

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2025 sebesar 5,12% memang layak diapresiasi, apalagi di tengah ketidakpastian global. Namun, angka ini belum cukup jika masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ke depan, fokus kebijakan harus bergeser dari sekadar menjaga pertumbuhan ke memastikan pertumbuhan inklusif—yang manfaatnya benar-benar dirasakan rakyat di semua lapisan. Tanpa itu, angka PDB hanya akan menjadi statistik yang indah di atas kertas, namun hampa di kehidupan nyata.