Gempa 5,8 Magnitudo Guncang Sulawesi Tengah 18 Agustus 2025: Kronologi, Dampak, dan Langkah Mitigasi

Gempa

• Kronologi Gempa 5,8 Magnitudo di Sulawesi Tengah

Gempa bumi berkekuatan 5,8 Magnitudo mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada pagi hari, 18 Agustus 2025. Menurut laporan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), gempa ini terjadi sekitar pukul 07.42 WITA dengan pusat gempa berada di laut, sekitar 68 km timur laut Kabupaten Parigi Moutong, pada kedalaman 21 km. Gempa 5,8 Magnitudo Sulawesi Tengah 18 Agustus 2025 ini termasuk kategori gempa dangkal yang memiliki potensi menimbulkan guncangan kuat di wilayah sekitar.

Warga di kota-kota besar seperti Palu, Poso, dan Parigi Moutong merasakan guncangan sedang hingga kuat selama beberapa detik. Banyak masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah maupun gedung perkantoran. Beberapa saksi mata menyebutkan bahwa getaran terasa seperti gempa besar yang melanda Palu pada 2018, meskipun intensitas kali ini lebih rendah.

BMKG segera mengeluarkan peringatan dini terkait potensi tsunami minor, mengingat pusat gempa berada di laut. Namun, setelah evaluasi lebih lanjut, tidak ada indikasi kenaikan muka air laut yang signifikan. Peringatan pun dicabut kurang dari satu jam setelah gempa. Kendati demikian, gempa 5,8 Magnitudo Sulawesi Tengah 18 Agustus 2025 tetap menjadi peringatan penting tentang kerentanan wilayah ini terhadap aktivitas tektonik.


• Dampak Langsung Gempa di Wilayah Terdampak

Dampak dari gempa 5,8 Magnitudo Sulawesi Tengah 18 Agustus 2025 cukup terasa di berbagai wilayah. Berdasarkan laporan awal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), puluhan rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang, khususnya di daerah pesisir. Beberapa fasilitas umum seperti sekolah, rumah ibadah, dan kantor desa juga dilaporkan mengalami retakan pada dinding dan lantai.

Korban luka ringan tercatat mencapai puluhan orang akibat tertimpa reruntuhan material dan kepanikan saat menyelamatkan diri. Sementara itu, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa. Tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi dan pendataan di daerah yang sulit dijangkau, terutama di wilayah pesisir dengan akses terbatas.

Selain kerusakan fisik, gempa ini menimbulkan trauma psikologis pada masyarakat. Banyak warga yang masih teringat dengan tragedi gempa dan tsunami Palu tahun 2018 yang menewaskan ribuan orang. Rasa takut kembali memunculkan kepanikan, sehingga ribuan orang memilih mengungsi ke dataran tinggi meskipun peringatan tsunami sudah dicabut.


• Sejarah Aktivitas Seismik di Sulawesi Tengah

Wilayah Sulawesi Tengah memang dikenal sebagai salah satu daerah paling rawan gempa di Indonesia. Hal ini karena letaknya berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia, yakni Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Aktivitas tektonik yang tinggi membuat wilayah ini kerap diguncang gempa bumi dengan skala beragam.

Sejarah mencatat, gempa Palu 2018 dengan magnitudo 7,5 menjadi salah satu bencana paling mematikan di Indonesia. Gempa tersebut memicu tsunami setinggi 4–6 meter dan likuefaksi yang menghancurkan ribuan rumah. Peristiwa ini menewaskan lebih dari 4.000 orang dan menjadi pelajaran berharga bagi mitigasi bencana di tanah air.

Kejadian gempa 5,8 Magnitudo Sulawesi Tengah 18 Agustus 2025 menunjukkan bahwa ancaman serupa masih nyata. Masyarakat di wilayah rawan gempa perlu terus meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana. Dengan memahami sejarah aktivitas seismik, langkah mitigasi bisa dilakukan lebih efektif.


• Respon Pemerintah dan Lembaga Terkait

Pemerintah pusat melalui BNPB dan BMKG bergerak cepat merespons gempa ini. Tim reaksi cepat langsung dikerahkan ke lokasi terdampak untuk membantu evakuasi, memberikan bantuan medis, serta menyalurkan logistik dasar. Pemerintah daerah Sulawesi Tengah juga mendirikan posko darurat di beberapa titik, termasuk di Parigi Moutong dan Palu.

Selain itu, TNI dan Polri juga diturunkan untuk membantu proses evakuasi, menjaga keamanan, serta memastikan distribusi bantuan berjalan lancar. Presiden RI dalam keterangannya menyampaikan rasa prihatin dan meminta semua kementerian terkait segera memberikan dukungan penuh untuk pemulihan.

Kementerian Sosial menyalurkan bantuan berupa makanan siap saji, selimut, dan tenda darurat. Sementara itu, Kementerian PUPR mengirim tim teknis untuk menilai kondisi infrastruktur yang rusak, khususnya jembatan, jalan, dan fasilitas publik. Langkah cepat ini penting untuk memastikan pemulihan pasca gempa 5,8 Magnitudo Sulawesi Tengah 18 Agustus 2025 bisa berjalan efektif.


• Mitigasi Bencana dan Kesiapsiagaan Masyarakat

Pengalaman panjang menghadapi gempa membuat masyarakat Sulawesi Tengah relatif lebih siap. Namun, tetap diperlukan peningkatan edukasi dan sosialisasi tentang cara menyelamatkan diri saat gempa terjadi. Sekolah-sekolah di daerah rawan bencana perlu rutin melakukan simulasi evakuasi agar anak-anak tidak panik saat menghadapi kondisi nyata.

Selain itu, penting juga adanya sistem peringatan dini tsunami yang terintegrasi dan berfungsi baik di pesisir Sulawesi Tengah. Banyak ahli menekankan bahwa pemeliharaan alat deteksi gempa dan tsunami sering kali terabaikan, sehingga efektivitasnya menurun. Pemerintah bersama masyarakat harus memastikan sistem ini selalu aktif.

Di sisi lain, pembangunan rumah tahan gempa juga menjadi faktor penting. Arsitektur lokal yang dikombinasikan dengan teknologi modern bisa membantu meminimalkan kerusakan ketika gempa seperti gempa 5,8 Magnitudo Sulawesi Tengah 18 Agustus 2025 kembali terjadi di masa depan.


• Dampak Sosial dan Ekonomi Jangka Panjang

Selain kerusakan fisik, gempa ini juga berdampak pada perekonomian daerah. Banyak aktivitas perdagangan terhenti sementara karena warga fokus menyelamatkan diri. Pasar tradisional di Parigi Moutong ditutup beberapa hari, sementara aktivitas perikanan laut juga terganggu karena nelayan enggan melaut setelah gempa.

Industri pariwisata di Sulawesi Tengah yang sedang bangkit pasca pandemi pun kembali terkena imbas. Beberapa wisatawan membatalkan kunjungan karena khawatir akan gempa susulan. Hotel-hotel di sekitar Palu melaporkan penurunan tingkat okupansi hingga 40% hanya dalam beberapa hari pasca kejadian.

Dari sisi sosial, trauma mendalam yang ditinggalkan membuat sebagian masyarakat lebih memilih pindah ke daerah yang dianggap aman. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini bisa menyebabkan urbanisasi berlebihan ke kota besar, meninggalkan desa-desa di pesisir dalam kondisi terpuruk.


• Kesimpulan

Gempa 5,8 Magnitudo Sulawesi Tengah 18 Agustus 2025 menjadi pengingat penting bahwa Indonesia masih berada di wilayah rawan bencana. Dengan belajar dari pengalaman masa lalu, meningkatkan kesiapsiagaan, dan memperkuat sistem mitigasi, dampak bencana dapat ditekan seminimal mungkin. Dukungan pemerintah, partisipasi masyarakat, serta kolaborasi lembaga internasional sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman di masa depan.


• Referensi